Pembangunan Jembatan Pulau Laut: Penghubung Baru untuk Memperkuat Konektivitas dan Ekonomi Kalimanta

Pembangunan Jembatan Pulau Laut di Kalimantan Selatan merupakan proyek infrastruktur strategis yang dirancang untuk menghubungkan Kabupaten Tanah Bumbu di Pulau Kalimantan dengan Kabupaten Kotabaru di Pulau Laut. Proyek ini diharapkan mampu mengatasi keterbatasan konektivitas akibat kondisi geografis yang selama ini memisahkan kedua wilayah oleh perairan.

Jembatan tersebut nantinya akan menciptakan akses darat yang dapat mempercepat mobilitas masyarakat serta distribusi barang dan logistik. Selain pembangunan struktur utama, pemerintah juga menyiapkan jalan akses dan melakukan integrasi dengan jaringan jalan yang sudah tersedia agar jembatan dapat berfungsi sebagai bagian dari sistem transportasi regional.

Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Bina Marga menangani pembangunan bentang utama dan sebagian jembatan pendekat dengan panjang sekitar 1.052,75 meter. Proyek yang menggunakan skema pembiayaan multiyears 2025–2028 ini telah mencapai progres konstruksi sekitar 11,3 persen dan ditargetkan selesai pada 2028. Kontrak pekerjaan ditandatangani pada 22 Desember 2025 dengan total dukungan anggaran sekitar Rp5,25 triliun.

Pendanaan proyek berasal dari pemerintah pusat dan daerah. Kementerian PU mengalokasikan sekitar Rp3 triliun, sedangkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memberikan sekitar Rp1,65 triliun. Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Kotabaru masing-masing berkontribusi sekitar Rp300 miliar.

Karena sebagian pekerjaan dilakukan di atas perairan, pembangunan jembatan membutuhkan metode konstruksi dan teknologi khusus. Beberapa metode yang digunakan antara lain pembangunan dek cable-stayed dengan form traveller serta pemasangan box girder menggunakan launching gantry. Penerapan metode tersebut ditujukan untuk menjaga aspek keselamatan, mutu, dan efisiensi selama proses pembangunan.

Secara keseluruhan, jembatan dirancang memiliki panjang sekitar 3,75 kilometer dan lebar 24 meter dengan konfigurasi empat lajur dalam dua jalur. Bentang utamanya mencapai sekitar 505,5 meter dan menggunakan desain cable-stayed yang ditopang dua pylon setinggi kurang lebih 100 meter. Bagian pendekat memiliki panjang lebih dari 3,2 kilometer dan menggunakan kombinasi struktur box girder, U-girder, serta pile slab. Struktur jembatan juga direncanakan menggunakan beton bermutu tinggi.

Pengerjaan proyek melibatkan sejumlah perusahaan konstruksi melalui beberapa tahap dan skema kerja sama operasi, termasuk Adhi Karya, Hutama Karya, Pembangunan Perumahan, Waskita Karya, serta sejumlah perusahaan lainnya. Selain kontraktor, terdapat pula pihak yang menangani perencanaan, penyelidikan tanah, supervisi, dan manajemen konstruksi. PT Pemeta Engineering System tercatat menangani pekerjaan review desain serta penyelidikan tanah dan asesmen lanjutan, sedangkan PT Adiya Widyajasa dipercaya dalam pekerjaan supervisi dan manajemen konstruksi.

Jika pembangunan berjalan sesuai target, Jembatan Pulau Laut tidak hanya menjadi penghubung fisik antara Tanah Bumbu dan Kotabaru, tetapi juga dapat mendukung aktivitas perdagangan, memperlancar rantai pasok, serta meningkatkan akses terhadap berbagai layanan. Peningkatan konektivitas tersebut juga diharapkan menciptakan peluang bagi investasi, pariwisata, dan sektor ekonomi lainnya di Kalimantan Selatan.